Papandayan, Pertama Kalinya Jatuh Hati Pada Gunung
Assalamualaikum, Halo teman-teman perkenalkan nama saya Fathan. Saya ingin berbagi pengalaman dan cerita yang sudah saya lalui sebelumnya. Mungkin ini pertama kalinya saya mencoba menulis di blog ini. Semoga tulisan-tulisan yang saya buat ini dapat memberikan informasi sekaligus membuka pintu imajinasi dari teman-teman semua. Bismillah....
Awal mula perjalananku di gunung Papandayan bermula dari obrolan ringan dengan teman sekelasku di kampus.
Nadya, si cewe bala bernada manja tak sengaja membicarakan pengalamannya mendaki gunung dengan Zulhaidar, si cowo berbadan agak kurus dan lumayan tampan (kata cewe cewe sih) di belakang kantin. Aku dan Agus, si cowo bernada seram berhati lembut ikut menyimak pembicaraan mereka.
Nadya: "Emang Zul suka naik gunung? Pernah ke gunung mana aja Zul?"
Zul: "Baru sedikit Nay. Palingan kayak Papandayan, Ciremai, Paguci (Papandayan, Guntur, Cikuray) udah semua sama gunung-gunung kecil palingan."
Agus: "Udah banyak itu Zul. Urang juga pernah sih ke Gunung Sibayak di Sumatera.
Nadya: "Gue udah pernah ke Gede Pangrango waktu SMA. Terakhir ke Gunung Salak diajak sama om Gue."
Zul: "Emang maneh ikut SISPALA (Siswa Pecinta Alam) Nay?"
Nadya: "Iya dulu gue ikut Sispala."
Aku: "Adek gua juga ikut Sispala. Tapi gua belom pernah naek gunung sih. Pengen juga jadinya"
Nadya: "Papandayan bagus gak Zul? Katanya gampang jalannya gak berat. Pengen kesana"
Zul: "Hayu aja sih urang mah kalo semua mau."
Beberapa hari setelah itu, kami merencanakan untuk hiking ke Gunung Papandayan di bulan Juli 2016 bertepatan dengan liburan semester 2.
Hingga tibalah hari dimana kami akan berangkat menuju lokasi tujuan. Aku, Nadya, dan Agus berangkat jam 7 malam dari Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat.
Nadya: "eh udah siap semua blom?"
Aku: "yeee, harusnya gua yang nanya daritadi kita udah nungguin lu nih"
Nadya: "wkwk, iya udah. Trus si Zul gimana?
Agus: "Katanya sih dia nunggu di Nagreg. Sekalian lewat rumahnya."
Nadya: "Oh gitu, yaudah berangkat."
Dari Cileunyi, kami berangkat menggunakan Bus Primajasa ke Terminal Guntur Garut dengan ongkos Rp. 17.000 saja.
Sumber: telusuri.id
Kami meminta kepada supir untuk berhenti sebentar di depan Rumah Makan Ponyo Nagreg. Karena Zul sudah menunggu disana.
Jam 9 malam, Setibanya di Terminal Guntur Garut, Kami istirahat sebentar mencari makan. Nadya dan Zul makan di warung mie ayam, sementara Aku dan Agus masih mencari makanan dengan harga yang super hemat untuk menghemat pengeluaran.
Kami memutuskan makan di warung pecel lele saja, namun cuma memesan nasi pakai kepala ayam plus tahu dan tempe dengan harga RP. 7.000 saja.
Soal rasa, ya begitulah. Harga sesuai rasa dengan kepala ayamnya yang sudah agak bau sih hahaha. Sambalnya pun tidak ada, cuma pakai cabe aja.
Selesai makan kami duduk sebentar di warung kopi. Sementara itu, banyak sopir dan ojek menawarkan kami jasa charter angkutan menuju gunung yang dituju seolah-olah sudah mengerti arah tujuan kami. Ya maklum, pakaiannya setelan pendaki sih, sambil gendong tas Segede kulkas yee kaan!..
Kang Ojek: "Papandayan! Papandayan!.. Cikuray! Bade kamana a? Hayuk Papandayan langsung jalan!
Aku: " Berapa mang ke Papandayan?"
Kang Ojek: "70 ribu."
Kang Sopir: "berapa orang neng?"
Nadya: "4 orang mang."
Kang Sopir: "Hayuk neng, dua ratus lima puluh langsung jalan!
Nadya: "gimana Zul?"
Zul: "moal Mang. Nanti aja nay nunggu angkutan umum ke Pasar Cisurupan."
Karena tidak tahu apa-apa, kami ikut keputusan si Zul saja. Kami mencari warung yang menjual spirtus untuk bahan bakar kompor yang digunakan untuk memasak nantinya.
Hingga jam sepuluh malam. Kami menemukan angkutan Elf yang menuju Pasar Cisurupan dengan ongkos Rp. 20.000
Aku: "Gua masuk duluan deh biar duduk deket kaca jendela"
Zul: "Bebas, Aing duduk dimana aja lah."
Agus: "Sama lah."
Nadya: "eh ini siapa sih yang belom mandi? Bau ketek, pake deodorant gih than!"
Aku: "Bukan gua kok nay! tadi sore udah mandi gua."
Sudah setengah jam berlalu, mobil yang kami tumpangi hanya berkeliling di sekitaran terminal saja. Kemungkinan besar, mobil harus terisi penuh terlebih dahulu oleh penumpang yang membuat kami mengeluh kesal, karena di dalam mobil terasa sumpek dan sesekali kami merasa mual.
Jam 11 malam, setibanya di pertigaan pasar Cisurupan, kami mampir sebentar di Alfamart terdekat untuk membeli perlengkapan seperti tisu, makanan ringan, air mineral, serta gas kaleng (saat itu Zul membawa 2 jenis kompor kemah, yang satu kompor gas, satunya lagi parafin)
Sumber: artmenembusbatas
Kami membagi beban bawaan masing-masing sesuai kapasitas. Setelah semua siap, kami memasuki gapura di pertigaan pasar Cisurupan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kami menunggu angkutan yang menuju basecamp sembari berjalan kaki di sepanjang jalan melewati rumah-rumah warga.
Nadya: "Zul, kok jalanan di depan gelap banget ya?"
Zul: "bentar, urang ambil senter dulu!"
Agus: "ini masih jauh Zul?"
Aku: "di depan udah gak ada rumah warga lagi tuh kayaknya. Gelap banget, yakin mau jalan kesana?"
Zul: "Lumayan sih, sekitar 7 kilo lebih lah ke basecamp kalo gak salah. Apa kita nunggu disini aja ya sampe pagian dikit. Biasanya ada mobil sayur lewat."
Agus: "urang bebas sih, kalo mau lanjut ayo aja!"
Aku: "terserah si nae aja lah."
Nadya: "lah kok gue. Tapi serem jalanannya. Tungguin mobil aja deh."
Zul: "yaudah kita tunggu disana aja ada teras warung, bisa duduk-duduk."
Tak terasa waktu menunjukkan lewat tengah malam. Kami keasyikan ngobrol di depan teras. Aku memerhatikan obrolan Zul dan Nadya mengenai masa-masa saat masih aktif sebagai Sispala di SMA mereka masing-masing, seperti nya mereka memiliki rasa ketertarikan satu sama lain.
Hingga sebuah suara pintu terdengar dari dalam warung dan menyita perhatian kami sejenak. Cekrek! Teeeeeeeuwt!
Zul: "Punteun Pak, bade numpang heula didiyeu."
Pemilik Warung: "oh asup atuh jang, neng, asup kadiyeu."
Aku: "muhun pak. Disini aja kita mah, cuma sebentar aja disini pak."
Pemilik Warung: "gak papa, masuk aja kedalam, dingin diluar. Ini teh mau ka Papandayan?"
Agus: "iya pak. Kita sedang nunggu angkutan kesana."
Pemilik Warung: "oeuh, mobil mah nanti pagi subuh baru ada. Asup Jang ka Imah."
Karena merasa tidak enak dengan si bapak pemilik warung, kami menuruti permintaannya. Di dalam rumah, aku diajak mengobrol dengan si bapak. Walaupun setengah mengerti dengan bahasanya. Maklum, si bapak lebih banyak berbicara menggunakan bahasa Sunda sih hahaha.
Zul dan Agus lebih asyik nongkrong diluar sembari ngopi dan ngudud. Sementara di dalam rumah, Nadya sudah tertidur pulas karena capek alias tidak mengerti obrolan aku dengan si bapak. Yohohoho!
Tak terasa waktu menunjukan pukul setengah 3 pagi, Si bapak juga izin tidur duluan. Aku pun ikut tidur di dalam, sementara Agus dan Zul tidur di teras luar beralaskan matras..
Hingga waktu subuh tiba, kami bangun. Seusai sholat subuh, ternyata ada tawaran jasa mobil pick up kepada kami, kami pun bernegosiasi dengan si sopir mengenai harga.
Normalnya, mobil pick hanya mau mengangkut rombongan dengan jumlah 10-15 orang dengan harga 150.000. namun kami mendapat potongan harga menjadi 120.000. yah, resiko jumlah rombongan sedikit. Kamu pun sepakat dengan harga tersebut.
Kami segera berangkat menuju basecamp. Saat itu langit-langit masih terlihat gelap. Udara yang cukup dingin membuat kami menghembuskan uap air dari hidung.
Dalam benak diriku, timbul rasa penasaran akan sensasi mendaki gunung. Perasaanku bergejolak, antara takut, senang, dan gelisah tidak sabaran untuk segera sampai disana. Maklum, saat itu adalah pertama kalinya diriku melakukan pendakian di gunung.
Jalanan yang bergelombang dan menanjak perlahan kami lewati. Dari bawah, terlihat pemandangan gunung Papandayan yang berdampingan dengan gunung Cikuray.
Aku: "Zul, yang di sebelah sana itu gunung apa?"
Zul: "oh itu Cikuray than."
Aku: "Tinggi banget yak. Kayak serem gitu ngeliatnya."
Zul: "disana terjal jalannya than. Urang pernah kesana bawa babaturan"
Agus: "kok diatasnya kayak ada salju gitu yak?"
Zul: "itu mah awan Gus. Dia nyelimutin atas puncaknya."
Agus: "oh gitu. Ayolah urang pengen kesana juga kapan-kapan."
Sekitar 15 menit perjalanan, kami sampai di basecamp. Kami segera ke posko pendakian untuk melakukan administrasi pendakian. Saat itu, tiket pendaftaran dikenakan biaya seharga Rp. 7.000 saja dikarenakan pengelolaan diambil alih warga karena terdapat konflik dengan pihak pengelola swasta. (Uh, kalo sekarang udah mahal imit sob biaya tiket masuknya)
Administrasi pendakian sudah dilakukan, saatnya kami berangkat menuju puncak Papandayan. Tentu tidak lupa untuk berdoa mengharap keselamatan dari berangkat hingga kembali pulang.
Masih disekitar posko pendakian, kami melihat banyak saung-saung dan bangunan lainnya yang sudah hangus terbakar.
Nadya: "eh ada kamar mandi, sebentar mau pipis dulu." (langsung jalan kedalam)
Agus: "sama nih, mau ke WC dlu. Minjem senter dong."
Zul: "beli Gus, minjem minjem mulu." (Sambil memberikan senternya)
Agus: "Yee nanti aing beli sama pabrik pabriknya sekalian."
Aku: "itu bangunan banyak yang kebakar kenapa Zul?"
Zul: "itu bekas ada konflik kayaknya. Waktu itu warga gak terima sama kebijakan dari pihak pengembang."
Aku: "oh gitu, serem juga yak. Sayang banget saung-saung nya pada dibakarin."
Setelah itu, kami memulai garis start pendakian. Waktu menunjukkan pukul 05.30 Wib. Langit-langit masih terlihat gelap. Sembari berjalan, aku mencoba menghilangkan perasaan gugup. Maklum, pertamakalinya mendaki sih.
Nadya: "masih gelap, keluarin senternya. Baca-baca doa Than!
Mulutku komat-kamit meminta doa perlindungan agar tidak diganggu oleh penunggu gaib yang berada di sekitar gunung ini. Padahal matahari sebentar lagi terbit hahaha.
Trek pertama yang kami sambangi adalah Medan berupa bebatuan. Aku sangat berhati-hati sekali ketika melewati Medan itu karena disamping jalannya terdapat kawah yang mengeluarkan asap belerang. (Disarankan memakai masker ketika melewati area ini)
Setelah 10 menit berjalan, aku merasakan lelah dan mengeluarkan keringat, ditambah nafas yang agak sesak dikarenakan harus menghirup udara yang berembun.
Kami berhenti sejenak untuk menstabilkan nafas. Perlahan, cahaya matahari keluar dari sarangnya, menghidupkan kembali suasana gelap di sekitar kami. Senter yang kami gunakan mulai tertutupi cahayanya.
Zul: "gimana, aman Than?"
Aku: "agak sesak nafas dikit. Udaranya berembun jadi susah nafas."
Zul: "nih pake baf urang aja."
Nadya: "mau minum dong."
Agus: "kalo cape gantian aja kita than bawa carrier nya."
Aku: "oke siap. Masih sanggup kok gua." (Maklum saat itu aku membawa tas berukuran paling besar)
Kami melanjutkan perjalanan. Zulhaidar kembali menuntun perjalanan sembari menerka-nerka arah perjalanan. Setelah 30 menit berjalan, Kami mulai memasuki area hutan dengan pepohonan yang lebat. Trek bebatuan yang kami lewati perlahan berubah menjadi tanah yang lembab.
Jalanan yang kami lewati mulai agak menanjak. Kabut pagi juga ikut mengiringi perjalanan kami. Pepohonan di sekitar semakin rapat dan menutupi penglihatan kami terhadap pemandangan langit diatas. Yah, agak mirip-mirip pemandangan hutan di film "The Lord of The Ring" gitu deh.
Aku: "Ya sekarang kita sudah sampai di hutan lord of the ring." (mencoba ngevlog menggunakan hp)
Nadya: "Semakin tinggi tanahnya, semakin pendek pepohonannya."
Aku: "oh jadi, semakin tinggi itu semakin pendek pohonnya. Ngomong-ngomong tentang pendek, jadi inget Ingga. Mau interview dia disini."
Nadya: "iiihh, gajelas banget."
Aku: "Yaudah, salam dah yak Ingga. Semoga kita bisa nanjak bareng yak Ingga. Biar bisa kita interogasi. Hahah."
Agus: "huuuwuwu." (Asyik bersenandung menyanyikan lagu)
Zul: "....." (Asyik berjalan di depan)
Beberapa lama setelah itu, kami melewati area dengan jalan yang rapat dan ditumbuhi dengan pohon-pohon Cantigi. Sesekali, kami berpapasan dengan rombongan pendaki lainnya, sambil menyapa juga. "Mari kang", "mari teh", "punteun kang", "punteun teh".
Hingga tibalah kami di area camp "Pondok Saladah". Area ini digunakan sebagai tempat peristirahatan sekaligus area untuk berkemah dan bermalam. Terdapat banyak warung disini. Jadi, cukup aman lah untuk persediaan logistik para pendaki. Kami pun segera mendirikan tenda.
Zul: "sekarang jam berapa?"
Nadya : "udah jam 9."
Zul: "masih pagi lah. Bantuin urang masang tenda Gus. Yang lain bantuin masak air sama beres-beres."
Agus: "ini gimana masang framenya Zul? Kok gak mau masuk?"
Nadya: "iiihh. Salah masukin itu Gus. Harusnya dimasukin ke lubang yang ini."
Agus: "oh gitu, ampun kakak. Saya masih belajar kakak."
Setelah itu, kami masak-masak terlebih dahulu untuk mengisi perut. Ada banyak bahan yang dimasak seperti nasi, nugget, sayuran, sosis, tempe, telur, dan tentu tidak lupa juga makanan wajib di gunung yang tidak lain tidak bukan merupakan rajanya makanan bagi para pendaki, yaitu "Mie Instan" hahaha.
Sehabis perut terisi, kami mengatur jadwal pendakian. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan jam 1 siang. Masih ada waktu sekitar 2,5 jam untuk beristirahat dan memejamkan mata.
Aku masih membereskan beberapa perabotan memasak untuk segera dicuci agar siap dipakai kembali. Ya kebetulan di area ini terdapat banyak sumber airnya bahkan ada fasilitas kamar mandinya pula. Tentu saja harus bayar, biayanya sama seperti Toilet pada umumnya. Apalagi fasilitas kayak gini ada di gunung, kurang enak apa coba.
Aku melihat teman-teman ku sudah terlelap di dalam tenda. Aku pun mencoba ikut memejamkan mata, namun diriku selalu saja merasa gelisah. Ada beberapa sebab, pertama mungkin saja posisi tidurku tidak nyaman karena berada di posisi paling pojok dan banyak perabotan. Ditambah postur tubuhku yang lumayan tinggi ini menempati luas tenda yang tidak begitu ideal bagiku.
Maklum saja, tenda yang dibawa Zul berkapasitas ideal untuk 3 orang saja. Resiko juga sih punya badan dengan tinggi 175 cm. Normalnya orang yang merasa kelelahan akan mudah tertidur lelap, namun diriku merasa tidak begitu lelah. Hanya merasa sedikit pegal pegal di bagian pundak dan kaki.
Ditambah lagi diriku sangat sensitif terhadap gangguan-gangguan kecil yang ada di luar tenda seperti suara orang yang berjalan di tanah, suara-suara hewan dan lain sebagainya. Ada seekor anjing bermuka "Bull Dog" pula yang selalu memandangi tenda kami. Wajar saja, kami tidak menutupi pintu tenda dengan lapisan kedua, hanya ditutupi tirai saja karena kami tidur di siang hari. Ya kalo ditutup semua bisa kepanasan lah.
Setelah beristirahat, kami bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Semua peralatan kemah, tas, dan tenda kami tinggalkan di Pondok Saladah. Tas yang dibawa hanya tas berukuran kecil seperti daypack yang dibawa Nadya untuk membawa air minum, cemilan, dan jas hujan/ponco.
Perjalanan selanjutnya yaitu menuju "Tegal Alun". Aku pun tidak tahu mengenai tempat itu seperti apa, Namun hari ini rasanya diriku sangat antusias untuk menjelajahi semua tempat yang ada disini. Kami berangkat dengan perkiraan waktu 2 jam menuju Tegal Alun dari camp Pondok Saladah.
Aku: "ih, ini bekas jejak kaki apaan Zul?" (Sambil menunjuk tanah)
Zul: "Itu jejak kaki babi kayaknya."
Agus: " iya itu jejak kaki babi."
Aku: "oh baru tau jejak kaki babi kayak gitu. Lumayan gede juga ya."
Nadya: "emang ada babi Zul disini?"
Zul: "ya ada, tapi urang blom pernah liat babinya. Padahal udah 3 kali kesini."
Aku: "babinya tangkep aja kasih ke Nadya."
Nadya: "ih apaan si geli tau."
Zul: "babinya kasih ke Agus aja. Kan dia dia suka makan."
Agus: "ya kalo babinya babi hutan, urang mikir-mikir juga keleus."
Aku: "lu mah doyannya babi yang warnanya pink ya Gus?"
Agus: "iya, klo itu enak. Kalo babi hutan gak tau deh gimana rasanya."
Zul: "yaudah, sikat Weh lah Gus. Nanti urang bantuin tangkep!
Aku: "iya sama."
Agus: "hahaha. Sialan kalian ya."
Di sepanjang jalan, kami melewati beberapa tanjakan yang agak licin karena karena kondisi tanah yang basah dan melewati jalan yang memiliki aliran air menyerupai parit.
Sesekali kami menghela nafas, maklum sebagian diantara kami tidak terlalu sering mendaki gunung atau pun melakukan latihan fisik yang intens. Ditambah kecepatan berjalan Zulhaidar di depan sangat cepat sehingga kami merasa kewalahan untuk mengimbangi nya.
Agus: "Zul break dlu zul ! Ini si Nay kecapean. (Berteriak pada Zul yg berada di depan)
Aku: "Lu gak papa Nay?" (Sambil menghela nafas)
Nadya: "Gak tau, asma gua kambuh kayaknya." (Ngos-ngosan)
Aku: "Yaudah, duduk dulu aja Nay. Minum dlu minum. Jangan dipaksa jalannya, pelan-pelan aja." (Memberikan botol air minum)
Zul: (kembali ke belakang menghampiri kami) "Kenapa Nay?"
Nadya: "Gak papa."
Agus: "Kecapean, asmanya kambuh katanya. Makanya jalan pelan-pelan Zul. Gak liat-liat belakang kalo jalan."
Zul: "Yeu, urang kira gak ada apa-apa."
Aku: "Iya lu cepet banget jalannya. Gua ampe ngos-ngosan."
Zul: "Yaudah deh, urang pelan-pelan."
Setelah beberapa lama kami melanjutkan perjalanan, tak terasa langit-langit mulai gelap, angin berhembus makin kencang, dan timbul rintik-rintik air yang jatuh membasahi kami dari atas sehingga membuat kami harus melindungi diri menggunakan jas hujan.
Hujan deras menemani perjalanan kami. Rasa takut ku mulai bertambah. Dari sebelumnya, aku merasa takut terhadap jalur pendakian yang sedikit licin ditambah diriku ini ternyata masih Phobia terhadap ketinggian. Aku mencoba melawan rasa takutku itu dari awal pendakian.
Dan kini, aku tak tahu rintangan apalagi yang akan kami hadapi selanjutnya. Aku menerka-nerka beberapa kemungkinan yang akan terjadi di tengah hujan lebat ini. Bisa saja kami tersesat dijalan atau terpeleset ke tengah jurang. Selama di perjalanan, aku selalu memikirkan banyak hal, Namun aku selalu berusaha untuk menenangkan pikiran ku.
Selama hujan mengiringi perjalanan, kami lebih sedikit berbicara atau berkomunikasi satu sama lain dan melanjutkan perjalanan selangkah demi selangkah. Wajar saja, dalam kondisi seperti itu ditengah medan pendakian yang menanjak pula, terlalu banyak istirahat hanya akan membuat tubuh kami bertambah dingin dan menggigil.
Selang beberapa lama, akhirnya intensitas hujan mulai agak reda. Medan perjalanan pun mulai berubah semula hutan tertutup dengan kontur tanah yang menanjak, perlahan menjadi landai dan terbuka diiringi dengan semak-semak pohon Cantigi yang tumbuh di sekeliling perjalanan kami.
Perlahan, semak-semak yang kami lewati mulai melonggarkan kerapatan areanya. Dari kejauhan terlihat suatu lapak yang sangat luas. Aku sangat antusias terhadap pemandangan apa yang akan terlihat di depanku.
Dalam sekejap mata, terlihat suatu tanah yang lapang dan ditumbuhi kumpulan pohon-pohon edelweis. Aku pun tak percaya bahwa diriku bisa menemukan tempat seindah ini.
Hamparan bunga-bunga edelweis bergoyang tertiup angin, dibasahi oleh rintik-rintik gerimis hujan dan dipercantik dengan suatu pemandangan pelangi, membuat suasana hati tersendu bahagia bagi semua orang yang melihatnya.
Agus: "Wuhuu!, ini tempat apa? Bagus banget."
Zulhaidar: "Kita udah sampe di Tegal Alun."
Nadya: "Yeay! Akhirnya sampe juga. Capek banget."
Aku: "Bagus banget sumpah, gila! Gak percaya gua bisa ke tempat ini!
Zul: "Ada yang lebih bagus lagi Than disini. Tegal Panjang. Wah lebih bagus lah pokoknya."
Agus: "Ini luas banget yak tempatnya. Gak ada siapa-siapa disini."
Zul: "Lagi ujan Gus."
Nadya: "Eh fotoin gue dong. Disitu."
Aku: "Ujannya udah reda. Lepas jas ujan dulu lah."
Selama beberapa waktu. Kami sibuk mengitari area Tegal Alun sembari menikmati pemandangan cantik bunga-bunga edelweis dan mengabadikan beberapa foto disini.
Selfie bareng di Tegal Alun
Setelah puas bermain-main di Tegal alun, kami memutuskan untuk segera turun kembali ke tempat camp Pondok Saladah. Kami tidak melanjutkan perjalanan ke Tegal Panjang karena, untuk memasuki area tersebut harus memiliki surat izin dari pihak pengelola, karena area tersebut merupakan kawasan hutan lindung yang tidak boleh sembarang orang bisa masuk ke sana.
Selang beberapa lama berjalan, kami melewati area "Hutan Mati". Mengapa disebut area Hutan Mati, karena area tersebut merupakan saksi bisu dari maha dahsyatnya erupsi akibat letusan dari Gunung Papandayan yang terjadi pada masa silam. Gak kebayang deh letusannya kayak gimana, sehingga terbentuk lah kawah-kawah sisa peninggalan dari letusan gunung tersebut.
Agus: "Oh ini yang namanya hutan mati. Kok ada ngeri-ngeri nya gitu ya..
Aku: "Muka lu Gus yang ngeri". Eh tapi lebih ngeri omelan nya si Nay."
Nay: "ih apaan si, bala kalian berdua wkwk."
Zul: "gak mau foto-foto dulu di sini?"
Nay: "mau dong, fotoin dlu!"
Aku: "eh kok lama-lama jadi berkabut lagi ya."
Agus: "mau hujan lagi kayaknya, Jadi mencekam gitu suasananya."
Nay: "yaudah lanjut lagi aja yuk, sambil jalan aja foto-foto nya"
Betul saja, saat itu pula hujan kembali turun. Kami buru-buru menggunakan jas hujan dan kembali melanjutkan perjalanan. Hujan pun mulai semakin deras. Kami melangkah kan kaki dengan cepat untuk mempercepat waktu tempuh perjalanan.
Ditengah perjalanan, kami nyaris tidak berhenti mempertahankan kecepatan tempo perjalanan kami. Maklum, hujan yang deras dan trek perjalanan yang menurun membuat kami terburu-buru untuk sampai menuju lokasi basecamp. Jika banyak berdiam diri, hanya akan membuat tubuh kami bertambah dingin dan kaku.
Hingga tibalah waktu menjelang magrib, hujan sudah berhenti dan kami telah sampai kembali di basecamp Pondok Saladah. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera melepas jas hujanku dan membuka sepatuku yang sudah basah. Lalu aku segera mengambil pakaian ganti di dalam tas.
Zul: "Tan mau kemana?"
Aku: "Ke toilet sebentar, mau mandi."
Zul: "Gila maneh, dingin-dingin begini mandi. Awas menggigil nanti."
Aku: "Gatel banget gua sumpah, ya mumpung ada toilet, mandi aja sekalian."
Agus: "Urang ikut deh ke kamar mandi."
Zul: "Yaudah duluan aja, urang mau beres-beres dulu."
Aku segera masuk ke dalam toilet dan bertelanjang melepas semua pakaianku. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera mengguyurkan badanku dengan air. Dan wowww! Ternyata, aku baru saja merasakan air yang super dingin membasahi tubuh ku. Rasanya cukup mengejutkan syaraf kulitku sehingga aku merasakan sensasi yang membuatku merasa keenakan seketika. Uhhhhh!
Setelah selesai bersih-bersih badan, aku segera kembali ke tenda. Ketika keluar berjalan dari kamar mandi, banyak orang-orang yang melihatku dengan tatapan aneh. Ya iyalah, mana ada orang yang berani mandi malam-malam begini diatas gunung ye kan, bisa kena hipo entar. Dan aku pun menyadarinya kenapa orang-orang melihat ku seperti itu, karena rambutku yang basah lepek dan sekujur tubuhku terasa menggigil.
Zul: "udah Tan mandinya?"
Agus: "kuat gitu maneh mandi malam-malam? Sedangkan tadi aja pas urang pegang airnya dingin banget. Yehehehe!"
Aku: "ya dingin, tapi bodo amat lah, yang penting gak gatel-gatel lagi." (Sambil memakai deodorant)
Nadya: "iiiiih gak boleh make deodorant, masuk dulu gih kedalem."
Aku: "lah emang kenapa? Kan yang penting deodorant nya gak tumpah ke tanah."
Nadya: "iya tapi wangi. Emang mau Lo entar disamperin?"
Aku: "eeee jangan gitu dong. Merinding nih gua."
Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Kami masak-masak bahan makanan sembari curhat dan berbincang-bincang berbagi kisah dan cerita kami masing-masing. Aku pun melihat diantara Nay dan Zul, terdapat suatu rasa antusiasme diantara mereka berdua. Aku dan Agus lebih banyak mendengar perbincangan dari mereka berdua.
Makanan yang dimasak masih belum matang, aku merasa lapar dan segera mencari jajanan yang bisa mengganjal perut di warung sekitar. Yah lumayan ada gorengan bakwan hangat yang baru matang, saat itu membelinya dengan harga Rp. 1000/ 1 gorengan.
Aku: "Teh, meser. Iyeu gorengan sabaraha satu na?"
Teteh warung: "sarebuan a satu."
Aku: "mau 5 ya teh."
Teteh: "pake saos teu a?"
Aku: "pake teh."
Akang warung: "duduk heula atuh a!"
Aku: "oh muhun Kang."
Akang Warung: "darimana asal na?"
Aku: " dari Bandung."
Akang Warung: "oh Bandung. Bandung mana?"
Aku: "di Jatinangor."
Akang Warung: "oh Jatinangor Sumedang? Itu mah kampung Abi. Dulu tinggal disana. Mahasiswa ya?
Aku: "Iya a kok tau?"
Aku pun duduk cukup lama di warung tersebut dan berbincang-bincang cukup lama untuk saling berbagi cerita. Hingga ada satu hal yang membuatku antusias untuk mendengarkan cerita akang penjaga warung tersebut. Ia memberitahu ku bahwa, Kami membangun tenda di jalur yang akan dilewati Babi Hutan di malam hari. Biasanya babi-babi tersebut aktif mencari makanan di malam hari.
Akang pun bercerita, ada beberapa ekor babi yang ukurannya sebesar anak sapi. Udah kebayang kan ukurannya segede mana. Ya kalo anak sapi sih masih berani, sapi kan hewan herbivora. Hewan herbivora itu cenderung jinak. Tapi kalo babi hutan, gak tau deh cara menghadapi nya. Setelah menerima informasi tersebut, aku segera kembali ke tempat tenda kami.
Zul: "Abis dari mana Than?"
Aku: "Abis dari warung tadi ngobrol sebentar. Eh mau gorengan gak nih?"
Zul: "Sok weh, ini nasi sebentar lagi mateng."
Nadya: "Bantuin bukain sosis nih Than!, mau digoreng."
Aku: "Mana sini, biar gua bukain plastiknya. Eh masa tadi Aa warungnya cerita ke gua, katanya disini tempat jalur Babi Hutan kalo malem. Nanti kalo babinya beneran lewat sini gimana dong?"
Nadya: "Masa sih? nanti klo babinya nyeruduk tenda kita gimana? tapi untung kita gak bawa makanan yang amis-amis sih kayak sarden gitu."
Agus: "Babinya gede gak, urang takut juga sih kalo babinya babi hutan gitu, ada gadingnya soalnya."
Zul: "Ah jangan percaya, dia cuma nakut-nakutin aja biar kita mindahin tenda di deket warung dia. Urang udah 3 kali kesini tapi blum pernah nemu babi hutan disini."
Agus: "Eh nasinya udah agak bau gosong tuh Zul."
Aku: "Lah ini udah pada mateng makanannya."
Nadya: "Iya ini tinggal goreng sosis doang."
Setelah selesai masak-masak, kami segera menyantap makanannya. Soal rasa ya lumayan lah, karena masakan sendiri tanpa bumbu bumbu mecin kecuali mie instan, jadi kami lumayan lahap memakannya. Ada sosis, nugget, telor dadar, dan tidak lupa Indomie gorengnya sob. Ditambah kecap dan saus cabai jadi tambah endes lah pokoknya.
Sehabis itu, kami santai-santai dan berbincang-bincang sembari menghangatkan tubuh dengan membakar kayu yang kami pungut di hutan. Lagi-lagi, Aku dan Agus hanya menjadi obat nyamuk dalam perbincangan Zul dan Nadya. Dimulai dari cerita mengenai keluarga, hingga berbincang tentang pacar masing-masing.
Zul yang saat itu memegang sebuah buku berjudul "Sherlock Holmes" yang ia bawa, ditemani dengan sebatang lilin yang diletakkan di sebuah gelas kaca berukuran sedang, secara tidak langsung menggambarkan dirinya sebagai seorang kutu buku.
Setelah aku perhatikan, ternyata Zulhaidar merupakan seorang pria yang cukup lihai. Dia membuka bajunya menjadi setengah telanjang dengan alasan bahwa ia ingin beradaptasi dengan dinginnya suhu di luar tenda. Hmmm, Aku berani mengatakan bahwa Zulhaidar ini adalah orang yang cukup cerdik dalam memikat seorang wanita.
Lagi-lagi aku dan Agus secara otomatis memposisikan diri sebagai obat nyamuk. Kami berdua berpura-pura ingin tidur dan menempatkan diri di posisi setengah tenda di sebelah kiri, seperti sudah mengetahui bahwa di posisi setengah tenda si sebelah kanan akan ditempati mereka berdua wkwk.
Selang beberapa waktu, akhirnya Nadya tertidur pulas, sementara Zul masih asyik membaca buku yang ia pegang. Setelah mengalami tidur-tidur ayam yang cukup lama. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar tenda dan menghangatkan diri dengan bara api yang tersisa dari pembakaran kayu tadi. Tak lama kemudian, tiba-tiba Agus dan Zul juga ikutan keluar tenda dan menemaniku menghirup udara segar di luar tenda.
Zul: "Lagi ngapain Than?"
Agus: "Urang gak bisa tidur euy."
Aku: "Sama, badan serasa pegel-pegel. Udah gitu kaki gua kayak berasa kepanjangan gitu, mentok ke tenda"
Agus: "Daritadi cuma tidur-tidur ayam doang."
Zul: "Apinya udah mati ya. minjem korek gus!"
Agus: "Eh iya nyalain lagi Zul apinya, supaya hangat."
Aku: "Kalo misalnya kita lagi asik begini, eh tiba-tiba ada babi lewat gimana lu berdua?"
Zul: "Ah engga ada. Urang belom pernah ketemu babi disini."
Agus: "Tapi kalo babinya seram, urang mending kabur lah."
Aku: "Kata Aa penjaga warungnya, babinya segede anak sapi loh!"
Zul: "Ah mana ada babi segede itu, mau aja ditakut-takutin maneh Than."
Tiba-tiba saja, kami mendengar suara teriakan orang dari tempat lain. Tersontak saja, si Agus tiba-tiba kaget melihat seekor makhluk yang ia lihat di depannya. Makhluk tersebut memiliki caling di mulutnya, berwarna coklat kehitaman, serta mempunyai bulu yang kasar dan berdiri. ukurannya lumayan besar.
Agus: "Ih apaan tuh gede banget!"
Zul: "Apaan Gus?"
Zul pun segera menyalakan senter dan mengarahkannya ke posisi di depannya. Sontak saja, Zulhaidar terkaget-kaget setelah melihat makhluk tersebut.Saking ketakutan melihat makhluk tersebut, ia pun segera memanjat pohon yang berada di dekatnya. Aku pun juga melihat dengan jelas makhluk tersebut, yang tak lain adalah seekor babi hutan berukuran besar dengan warna kulit coklat dengan corak hitam berbentuk polkadot.
Aku: "Eh itu si Nadya gimana? masih di dalem tenda dia!"
Agus: "Bangunin aja, kasian si tapi lagi tidur gitu. Tapi kalo gak dibangunin takutnya diseruduk babi hehehe!"
Zul: "Tolong bangunin Gus."
Agus: "Maneh lah bangunin, tadi awalnya gak percaya kalo ada babi. Eh tiba-tiba beneran dateng dong babinya ehehehehe!"
Aku: "Hahahah. Pantesan tadi ada suara cewe teriak kenceng banget!"
Waktu menunjukkan pukul 11 malam, saat itu pula tiba-tiba suasana di sekitar Pondok Saladah menjadi meriah karena kawanan babi yang datang mengekspansi seluruh area camp untuk mencari makanan. "Ngok! Ngok!" terdengar suara babi asyik mencari bau aroma yang akan ia santap.
Sementara itu para penjaga warung dengan sigap berusaha mengusir kawanan babi tersebut dari area camp menggunakan suara-suara perabotan berbunyi nyaring dibantu oleh gonggongan dari kawanan anjing yang mereka pelihara karena para babi sepertinya takut dengan suara yang berbunyi nyaring.
Zul: "Nay bangun nay. Nay!
Nadya: "Hmmm, kenapa? ada apa?"
Zul: "Bangun dulu aja pokoknya, banyak babi hutan berkeliaran."
Agus: "Eh itu babinya gede banget sumpah, hehehe!
Aku: "Pindah tempat aja yuk. Di sebelah sana aja tendanya!"
Zul: "Yaudah di keluarin dulu barang-barang di dalem tenda!"
Akhirnya kami memindahkan tenda kami di dekat warung. Ya setidaknya lebih aman lah dari gangguan babi hutan karena ada yang berjaga di dekat warung. Kami sempat berbincang-bincang sepentar dengan Akang penjaga warung tadi. Dia memberitahukan jika setiap malam memang ada saja babi hutan yang mencari makanan ke tenda pendaki. Terkadang, babi yang datang ukurannya melebihi ukuran seekor anak sapi.
Setelah selesai memasang tenda kembali, kami melanjutkankembali istirahat yang tertunda. Datang hujan rintik-rintik yang mulai membasahi tenda kami. Keadaan suhu disekitar berubah menjadi lebih dingin. Kami segera menarik Sleeping Bag untuk menjaga kehangatan tubuh kami dan segera tidur.
Karena baru pertama kali merasakan dinginnya suhu di sekitar gunung yang membuat sekujur tubuhku menggigil, aku pun tidak bisa tidur pulas pada malam itu. Ditambah perasaanku yang berdebar-debar merasa was-was jika seekor babi hutan menyeruduk tenda kami, menjadikan malam itu sebagai malam penderitaan pertamaku ketika camp di gunung.
Nadya: "Than, than, bangun!"
Aku: "Hmm, kenapa Nay?"
Nadya: "Bangun, udah pagi ih. Bangunin Agus juga tuh!"
Aku: "Yah sunrisenya udah kelewatan ya.Tidur lagi aja lah masih ngantuk."
Nadya: "Iiihh, udah jam 7 tau, gak mau foto-foto gitu?"
Aku: "Ye bukannya bangunin gua dari tadi subuh biar bisa liat sunrise."
Nadya: "Tadi udah dibangunin. Tapi gak bangun-bangun. Yaudah ditinggal aja tadi gua abis foto-foto sunrise."
Aku: "Ah bilang aja gak mau diganggu kan? biar kalian berdua gak ada yang ganggu wkwkw!"
Nadya: "Ihh apaan dah."
Kami menghabiskan waktu menikmati suasana pegunungan Papandayan di pagi hari, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Dalam benakku, aku berpikir, ternyata asik juga ya bermain-main di gunung. Rasanya aku ingin segera berkunjung ke gunung-gunung di tempat lain. Pokoknya, perjalanan ku di gunung Papandayan ini cukup membuatku ketagihan untuk mendaki gunung lagi.
Setelah sampai kembali di Pos Pendaftaran dan melapor kepada pihak pengelola bahwa kami telah kembali dengan selamat, Kami mencari tumpagan untuk kembali menuju jalan pertigaan Pasar Cisurupan. Ternyata ada ojek yang menawarkan tumpangan ke kami dengan tarif RP. 20.000 aja.
Karena uang dikantong kami sudah menipis dan takutnya tidak cukup untuk ongkos pulang, akhirnya kami memilih alternatif untuk mencari tumpangan gratis. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya kami mendapat tummpangan di mobil pick up. lumayan ya kan dapat tumpangan gratis.
Namun mobil tersebut tidak searah dengan tujuan kami, akhirnya kami turun di Kota Garut. Dari Kota Garut kami kembali mendapat tumpangan gratis lagi, namun hanya sebentar karena mobilnya sudah sampai di tujuan. Kmi kembali mencari kembali mobil yang bersedia untuk kami tumpangi. Akhirnya kami mendapat tumpangan yang searah dengan tujuan kami pulang ke Jatinangor.
Dan ternyata, ditengah perjalanan, Zulhaidar mengajak Nadya turun dari mobil persis di depan rumahnya di Nagreg dengan alibi ganti baju dan mandi dlu. Sudah ku duga, ternyata Zulhaidar ini merupakan seorang pria yang sangat lihai memainkan perannya. Sepertinya ada sesuatu diantara mereka berdua saat itu. Sementara Saya dan Agus hanya memberi salam dan kembali melanjutkan perjalanan sampai ke kosan di Jatinangor.
Fyuhh! sungguh pengalaman yang tak terlupakan ketika saya masih menjadi mahasiswa. Perjalanan inilah yang memotivasi saya sampai sekarang untuk terus berpetualang untuk mendapatkan pengalaman baru. Sampai bertemu di tulisan-tulisan saya selanjutnya ya. Jangan lupa mampir ke channel saya juga. Terimakasih! (Fathan Zalkafi)
Pondok Saladah





Komentar
Posting Komentar